Lilypie Expecting a baby Ticker
Tuesday, November 11, 2003
fm the mailing- list

Persimpangan Cinta


Perputaran waktu yang terjadi–sungguh–sangat cepat. Belum lama kita
menyambut kedatangan tamu Allah, Ramadhan Mubarak. Kini telah berlalu
sepertiga dari waktu yang ditentukan Allah untuk kita menemaninya.

Ya, berlalu sepertiga berarti takkan lama lagi ia akan berlalu. Dan
hari-hari indah itu hanya tinggal kenangan.

“Sepertiga pertamanya rahmah” demikian kata Rasulullah Saw. menjelaskan
karakteristik bulan barakah ini.

Rahmah menjadi permulaan kebaikan yang kita lakukan “Dengan menyebut asma
Allah yang Rahman dan yang Rahim”. Rahmah yang menjadi kata di awal persuaan
dua orang mukmin,”Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”. Rahmah yang
menjadi sebab kelembutan Rasulullah Saw. dalam berdakwah. “Maka disebabkan
rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya
kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi
mereka…”. (QS. 3:159) Dalam Al Qur’an pun Ar Rahman menjadi satu-satunya
nama surat Al Qur’an yang menggunakan salah satu dari al asma’ al husna.

Betapa besar nilai sebuah rahmah. Apalagi rahmah dari Allah yang
merefleksikan cinta dan kasih sayang-Nya.

Dan hari ini kita berada dipersimpangan cinta dan rahmah-Nya. Marilah kita
bersama-sama muhasabah.

Sudahkah kita menjadi orang yang penyayang terhadap yang lemah. Pengasih
terhadap yang fakir. Lembut terhadap orang lain. Pemaaf terhadap kekhilafan
saudara kita. Mencintai orang-orang yang mencintai kita. Memberikan cinta
kepada Allah dan Rasul-Nya, kepada orang-orang yang mencintai-Nya serta
segala sesuatu yang dapat mendekatkan kita kepada cinta-Nya. Menebarkan
cinta kepada orang-orang yang membenci kita. Menyambung tautan persaudaraan
kepada mereka yang memutusnya karena ketidaktahuan atau karena
kesalahpahaman yang dibesar-besarkan.

Sudahkah kita mencintai kaum muslimin. Mencintai sesama manusia. Menyayangi
makhluk-makhluk Allah. Sekalipun seekor ikan dalam akuarium yang ada di
ruang tamu kita. Sekalipun seekor kucing yang berada dalam rumah kita.
Sekalipun seekor burung yang ada di depan rumah kita. Atau tanam-tanaman
yang menghias halaman rumah kita.

Sudahkah benar-benar kita menghayati sepuluh hari yang penuh cinta ini?
Sehingga kita menjadi orang yang benar-benar penyayang dan pengasih terhadap
siapa saja. Terutama terhadap saudara kita, sesama kaum muslimin. Masih
adakah setelah itu kedengkian. Kebencian. Iri dan dengki. Atau bahkan
permusuhan?

“Sayangilah orang-orang yang ada di bumi, niscaya engkau akan disayangi oleh
mereka yang di langit”… dan malaikat pun akan menyayangi kita.

“Barang siapa yang tidak menyayangi takkan pernah disayangi”. Bila kita tak
pernah mengasihi dan menyayangi orang lain bagaimana mungkin kita berani
‘mengemis’ cinta-Nya. Sungguh, sangat malu.

Sebelum kita menyayangi dan mengasihi serta mencintai orang lain, kita
cintai diri kita sendiri. Mencintai diri sendiri dengan menanamkan kecintaan
terhadap cinta. Menanamkan cinta berarti mencabut dengki dan permusuhan.
Menyemaikan kasih sayang berarti membuang iri dan buruk sangka. Menyuburkan
cinta dan kasih sayang berarti memupuk kebaikan terhadap diri kita untuk
mempergunakan waktu yang disediakan Allah dengan mengoptimalkan potensi dan
kesempatan. Mentadabburi ayat-ayat-Nya, menyentuhkan kening kita dengan
sepenuh cinta, menguraikan air mata cinta pada-Nya, menolong sesama dengan
cinta-Nya, bahkan mengeluhkan segalanya kepada Dzat yang selalu memiliki
cinta. Dzat yang sayang-Nya takkan berbilang. Dzat yang kasih-Nya tiada
pernah pilih kasih. Lautan cinta-Nya tanpa batas dan tak bertepi.

Adakah alasan setelah ini untuk berputus asa?

Hanya mereka yang benar-benar telah kehilangan rasa cinta terhadap dirinya
yang berputus asa.

“Semua yang ada di langit di bumi selalu minta kepada-Nya.Setiap waktu Dia
dalam kesibukan”.(QS.55:29)

Allah Maha Mengetahui. Meski setiap detik dan setiap waktu berbagai
permohonan diajukan kepada-Nya. Mereka yang memohon ampunan dan cinta-Nya.
Mereka yang memohon rizki yang halal dan berkah. Mereka yang memohon anak
yang shalih. Mereka yang memohon kelulusan dalam ujian. Mereka yang memohon
pekerjaan. Mereka yang mohon dimudahkan jodohnya. Mereka yang memohon
kesembuhan dari penyakit. Mereka yang mohon keselamatan dalam perjalanannya.
Mereka yang memohon diselamatkan dari mara bahaya. Mereka yang memohon
perlindungan dari godaan nafsu dan syeitan. Mereka yang memohon perlindungan
dari kejahatan perampok dan tipu daya pencuri.

Dan Allah Maha Mendengar. Selalu mendengar rintihan fakir miskin dan anak
yatim. Mendengar keluhan orang-orang tertindas yang dizhalimi. Mendengar
kepanikan mereka yang dikejar-kejar kezhaliman. Mendengar keluh kesah
orang-orang lemah.

Disamping itu Dia tetap menghidupkan dan mematikan, memberi rizki dan
menahannya.

Namun, bosankah Allah mendengar itu semua? Pernahkah Dia kuwalahan menerima
semuanya? Pernahkah Dia kehilangan stok cinta? Apakah kita belum yakin akan
janji-Nya,”… Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa
kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan
hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam
kebenaran”. (QS. 2:186)

Dan karunia berharga berupa bulan Ramadhan ini telah benar-benar ada di
hadapan kita. Bahkan telah bersama kita sepertiga waktunya. Benarkah kita
menjadi orang-orang yang dirahmati. Benarkah kita merasakan adanya rahmah
Allah dalam diri kita. Bersama, kita renungkan dan bayangkan. Seandainya
saat ini Allah menunjukkan kepada kita daftar orang-orang yang bernar-benar
dikasihi dan dicintai-Nya selama sepuluh hari pertama di bulan ini, bisakah
kita menjawab pertanyaan berikut: Apakah kita termasuk di dalam daftar
tersebut. Berada pada urutan berapakah?

Bila kita tak mampu menjawabnya. Takut… sungguh sangat takut kita
menjawabnya. Karena keterbatasan kita. Karena kelengahan kita. Maka
beristighfarlah. Segera bangun dari kelalaian. Allah telah membuka
persimpangan cinta-Nya dengan karunia baru.

“… dan tengahnya adalah maghfirah” demikian Rasulullah Saw. menyambung
keterangan beliau tentang karakteristik bulan ini. Ada sepuluh hari
berikutnya. Maka segera kita gunakan untuk memperbaiki hari kita yang telah
lewat. Dengan sepenuh cinta. Karena tiada jaminan kita akan menyelesaikan
sepuluh hari ke depan. Semuanya serba ghaib dan menjadi rahasia Allah.

“Ya Rahman karuniailah kami cinta-Mu. Karuniailah kami kecintaan kepada
kebaikan-Mu, kekuatan melakukan kebaikan, serta kemampuan menebarkan
kebaikan di sekeliling kami. Ya Ghafur, ampunilah segala kekhilafan kami
dalam mempergunakan hari-hari-Mu. Memanfaatkan peluang cinta yang Kau beri.
Ampunilah kami dan masukkanlah kami ke dalam golongan mereka yang disayangi
dan dicintai serta diampuni dosanya dan dibebaskan dari api neraka-Mu”

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. 55:13)


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

hurinain_312: al hamdu lillah
hurinain_312: u'll discover more germs & treasures hidden in that very land ..sama mcm apa yg ana discover di sini ..

nota kaki: insya'Allah.. jazakallah khair ya ukhtie..
posted by umm mujahid @ 11/11/2003 04:25:00 PM  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home
 
 
 

Today is



nota mujahid
Archives
mujahid

our precious

parenting
Template By
Free Blogger Templates
© 2004 namakamu.blogspot.com