| Monday, February 26, 2007 | |||||||
| zon selesa | |||||||
Assalamualaykum warahmatullah dari milis . Hudzaifah.org Selamat tinggal wahai dunia duka Dan selamat datang wahai dunia iman Burung yang patah sayapnya takkan mati kerana lukanya. Wahai hatiku yang sedih perangainya Sungguh kesedihan itu telah meninggalkan diriku Kan terbang aku ke dunia cinta Kerana aku Muslim yang membumbung dengan iman Gelarku adalah Muslim dan itu cukup bagiku Aku termasuk kedalam tentara keimanan Al Quran adalah cahaya dan sinar Islam adalah kecintaan dan kerinduanku Di bawah naungan agama aku hidup Untuk menebus keislamanku yang nyaris sirna Sehingga aku menjadi khalifah di dunia Dan mengibarkan tinggi-tinggi panji Al Quran Lirik nasyid dari Izzatul Islam di atas, menggambarkan tentang hijrahnya seorang manusia. Dan hijrah yang dimaksud di sini adalah beralihnya manusia dari masa kegelapan jahiliyah menuju masa iman yang terang benderang. Membuka Sempadan, Hijrah Kedua Saat seseorang baru hijrah menuju ke arah yang lebih baik, umumnya hal pertama yang dilakukan adalah membangun “sempadan” (border) untuk diri sendiri dengan cara menjauhi lingkungan maksiat yang sekiranya dapat membahayakan keselamatan akidah dan akhlaknya. Namun sebaiknya seorang muslim tidak selamanya ada dalam zon selesa ini kerana dia harus meningkat menuju hijrah yang selanjutnya. Sebuah hijrah yang boleh diistilahkan sebagai “hijrah kedua”, iaitu hijrah dengan cara membuka “kawasan” yang pernah dihindarinya kerana ia telah “imun” atau memiliki kekebalan. Hijrah kedua, di mana setelah melakukan perbaikan akidah dan akhlak diri dalam “zon tarbiyah”-nya, dia terjun ke kampung orang-orang yang bermaksiat, orang-orang yang tidak sefikrah dengannya, dan orang-orang yang dahulunya dia hindari. Ia harus mulai membenturkan ideologinya dengan ideologi selain Islam sehingga di sinilah seorang muslim, baru akan merasakan kebenaran hakiki Al Islam. “Dan katakanlah,”�Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap; dan sesungguhnya perkara batil pasti lenyap.”(QS.Al Israa:81) Orang yang memiliki kekebalan (imun), insya Allah tidak akan tercemar dengan segala ideologi selain Islam. Baik itu komunisme, kapitalisme, hedonisme, sosialisme, liberalisme dan isme-isme lainnya, bahkan dengan ajaran agama para missionaris sekalipun. Allah SWT bersabda, “Dan kami teguhkan perkataan hamba-hamba kami di dunia dan di akhirat. “ Zon Nyaman yang Melalaikan Dikaitkan dengan para aktivis dakwah yang insya Allah telah menyadari bahwa tak selamanya ujian dari Allah itu adalah dalam bentuk kesusahan dan celaan - kerana boleh jadi ujian itu adalah dalam bentuk kenikmatan dan pujian-, maka hendaknya kita mewaspadai “zon selesa” ini. Zon nyaman yang dimaksud di sini adalah kondisi cepat puas dan merasa cukup dengan apa yang telah dicapai sehingga melalaikan perkembangan dakwah. Padahal seorang du’at tak seharusnya memiliki sifat cepat puas. Allah SWT berfirman, “Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS. Alam Nasyrah : 7) Sang aktivis dapat dikategorikan berada dalam zona nyaman, bila: 1. Disibukkannya aktivis pada masalah-masalah remeh, internal organisasi - yang seharusnya tak perlu dipermasalahkan- sampai-sampai mengabaikan masalah eksternal yang jauh lebih penting. 2. Banyak menghabiskan waktu dengan bergurau dan berbual kosong bersama sesama aktivis sehingga kurang muhasabah diri. Jika hal ini yang terjadi, maka sesungguhnya pada saat itulah kita berada dalam keadaan stagnan, tak bergerak. 3. Para aktivis sibuk sendiri dengan agenda kegiatan-kegiatan Islam, padahal orang-orang di luar aktivis sama sekali tak tersentuh, tidak peka dan yang lebih parah, tak tahu ada organisasi Islam di kampus atau lingkungan mereka. 4. Para qiyadah (pemimpin) struktural organisasi Islam, sibuk sendiri dengan agendanya. Ia mengetahui bahwa dirinya adalah qiyadah bagi para jundi, namun jundi-jundi itu sendiri tidak menyadari bahwa Anda adalah pimpinannya, sehingga tanpa sedar, siapakah pengikut-pengikutny a? 5. Merasa cukup dengan kondisi organisasi Islam yang dirasa telah banyak pengikutnya. Padahal bagi seorang muslim tak ada kata berhenti berjuang, “Hingga tak ada lagi fitnah dan agama ini hanya milik Allah.” Terlebih, tak selayaknya kita bangga dengan jumlah, "......dan (ingatlah) peperangan Hunain, iaitu di waktu kamu menjadi congkak kerana banyaknya jumlah, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kamu sedikitpun.. ."(Qs. At-Taubah: 25-26) 6. Puas dengan hanya berkutat di lingkungan sesama aktivis saja akibat terlena dengan aneka pujian dan kekaguman para pengikut kepada dirinya. Alaa kulli hal. Maka kita sebaiknya merubah sudut pandang, terjun ke lapangan dan menjadikan yang batil itu sebagai agenda bersama untuk dihadapi. Ini bukanlah hanya tugas aktivis yang diterjunkan di siyasi/politik saja, yang penting sekali ialah memiliki misi “mengubah neraka menjadi syurga”, tetapi juga tugas aktivis yang wujud di organisasi Islam. Zon Pergerakan Mencapai “imunisasi” tentu tak mudah, perlu mujahadah dan pembinaan yang terus menerus sebagai bekal terjun ke medan “pertempuran”. Dan seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa seorang muslim janganlah selamanya di dalam “comfort zone”, ia harus keluar dan mempersiapkan diri dengan imun akidah, tsaqafah dan akhlaknya. Pengiraan, hitung-hitungan jumlah kader untuk tidak menjadikannya management by feeling. Contohnya, jumlah mahasiswa di universiti-universi ti di UK dan Ireland yang terdiri dari tahun satu hingga lima berjumlah 15 000 orang dan aktivis dakwah di fakulti tersebut sebanyak 150 orang. Para aktivis yang berjumlah 150 orang ini akan berasa banyak dalam lingkungan mereka sendiri, namun mereka lupa melihat keluar bahawa masih ada 14 850 mahasiswa lainnya. Ini berarti para aktivis itu hanyalah 1 % dari keseluruhan mahasiswa di fakulti tersebut. Meski sebaiknya kita memang jangan menjadikan jumlah sebagai indicator keberhasilan atau kegagalan dakwah, namun ini dapat menyedarkan kita bahwa tidak selayaknya kita berada dalam zon selesa. Dan sekali lagi, hal ini disebabkan masih ada ramai lagi di dalam masyarakat, yang belum tersentuh dakwah. Zon selesa ini harus diganti dengan zona pergerakan dan menetapkan agenda “turun padang ” untuk merangkul 99 % lainnya. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya bila seseorang mendapat petunjuk hidayah melaluimu maka itu lebih baik dari dunia dan seisinya." Penutup Seringnya para aktivis menghabiskan waktu bersama, sepintas memang terlihat baik, namun bila hanya diisi dengan berbual kosong dan bercanda tanpa adanya agenda dakwah yang didiskusikan atau hal yang bermanfaat lainnya dan merasa cukup dengan kondisi dakwah yang ada, maka sesungguhnya aktivitas sering berkumpul itu, bukanlah hal yang patut dibanggakan. Hapuslah zon selesa, kita lihat dunia luar, buka sempadan dan bergeraklah kita untuk memperlebar sayap dakwah. Insya Allah “imun” itu bukanlah kerana kekuatan dan kehebatan kita peribadi, namun kerana pertolongan dari Allah akan karunia ilmu dan hidayah keyakinan yang menghujam di lubuk hati bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar, yang sempurna dan diridhai-Nya. (ayat al akrash) Labels: tarbiyyah |
|||||||
| posted by umm mujahid @ 2/26/2007 10:04:00 AM | |||||||
|
| nota mujahid |
| Archives |
| mujahid |
our precious |
| parenting |
| Template By |
|



